Merasa Bersalah dan Kecewa Saat Harus Absen Olahraga, Normalkah?

ecd1ab43-eb74-41e7-91ba-6288e1ac0a76_169

ecd1ab43-eb74-41e7-91ba-6288e1ac0a76_169Jakarta, Bagi orang yang sudah rutin berolahraga, tidak berolahraga satu dua hari saja seperti terasa ada yang kurang. Namun, apakah perasaan bersalah dan kecewa saat harus absen olahraga merupakan hal yang normal? “Hanya sedikit perasaan cemas dan kecewa karena tidak sempat berolahraga bisa dikatakan masuk kategori sehat. Sebab, pada dasarnya perasaan seperti itulah yang mendorong kita untuk tetap melakukan tujuan kita dan mencapai hasil yang diinginkan,” tutur psikolog klinis di University of Sydney, Scott Griffiths, PhD. Namun, di sini Griffiths menggaris bawahi hanya ada sedikit rasa cemas, bersalah, dan kecewa. Sebab, ketika Anda justru merasa cemas berlebih sampai frustasi, menurut Griffiths ada hal serius lainnya yang mesti diperhatikan.

Apalagi, jika kecemasan saat absen olahraga itu diiringi dengan perasaan gagal dan gejala fisik seperti jantung berdetak lebih cepat atau sesak napas, berarti ada sesuatu yang tak beres dengan psikis Anda. Tanda lain yang menunjukkan kecemasan dan kegagalan saat tak berolahraga merupakan hal tidak normal yaitu Anda sering melewatkan kegiatan sosial karena berbenturan dengan waktu olahraga. “Semua reaksi tersebut bisa menandakan ada gangguan kecemasan yang mendasari perasaan cemas berlebih muncul ketika Anda tidak berolahraga. Dan ini tidak hanya sekadar perasaan normal yang kemudian bisa Anda ‘maafkan’ setelahnya,” tutur Griffiths, dikutip dari Men’s Health.

Studi dari Journal of Environmental Research and Public Health menunjukkan perasaan cemas berlebih ketika absen olahraga bisa mengindikasikan seseorang mengalami kecanduan olahraga. Kecanduan ini terjadi ketika Anda menggunakan olahraga sebagai mekanisme untuk melarikan diri dari hal-hal yang tidak menyenangkan dan demi meningkatkan harga diri, bukan untuk tujuan kesehatan. Jika itu yang dialami, Griffiths menyarankan berkonsultasilah dengan konselor supaya Anda bisa mendapat cognitive-behavioral therapy. Menurut Griffiths, terapi ini bermanfaat untuk mengatasi pola atau pemikiran yang mengganggu kehidupan sehari-hari.