Pasien Sering Sulit Terima Kenyataan Jika Memiliki Sakit Yang Berat

82daf41e-6f3b-4957-9019-e3ecf50a0b3e_169

82daf41e-6f3b-4957-9019-e3ecf50a0b3e_169Jakarta, Penyakit kronis dewasa ini sebenarnya dipicu oleh gaya hidup. Sayangnya hal ini tidak dibarengi dengan kesadaran jika suatu saat nanti gaya hidup itu akan merugikan diri sendiri. Menariknya, ketika pada akhirnya jatuh sakit, muncul keengganan atau bahkan ketakutan untuk bertemu dokter. Hal ini pulalah yang ditemukan detikHealth melalui survei yang melibatkan sekitar 100 orang dan dilaksanakan beberapa waktu lalu. Jadi apa sih yang sebenarnya membuat seseorang enggan atau takut periksa ke dokter? Survei mengungkap faktor teratas di balik ketakutan bertemu dokter adalah takut ketahuan mengidap penyakit serius. Responden yang menjawab demikian mencapai 74 orang. Seperti dijelaskan dr Indra Wijaya, SpPD, M.Kes., dari RS Siloam Karawaci sebelumnya, organ dalam merupakan bagian tubuh yang vital sehingga ketika organ ini mengalami masalah maka ini menjadi ‘ketakutan tersendiri bagi pasien’. “Tapi toh tidak semua pasien takut ke dokter kok. Tentunya ini tergantung berat ringannya penyakit yang dikeluhkan dan ekspektasinya saat ke dokter,” tandasnya. Selain takut diketemukan penyakit berat, faktor berikutnya yang membuat orang enggan ke dokter adalah takut disuntik (17 orang) dan takut dengan peralatan yang digunakan dokter untuk melakukan pemeriksaan (11 orang).

Sisanya adalah responden dengan alasan-alasan spesifik, seperti tidak tahan dengan suara mesin bor gigi, atau takut pada tindakan yang akan atau harus dilakukan dokter. Ada juga yang takut kalau susternya galak dan takut merasakan sakit karena pengalaman kurang menyenangkan saat jatuh sakit sebelumnya. “Penyebab ketakutannya memang tergantung pengalaman. Ada yang pernah punya pengalaman dengan dokter sehingga takut, ada juga yang takut jarum, jas dokter bahkan bau ruangan tempat praktik dokter,” terang Anna Surti Ariani, M.Psi., dari Klinik Terpadu di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia kepada detikHealth.

Ada pula responden yang mengaku enggan ke dokter lebih karena khawatir jika dokter yang ditemuinya memberikan diagnosis sembarangan. Dua responden lainnya mengajukan alasan terkait obat; yang satu malas minum obat dan satu lagi tidak suka jika diberi obat dalam jumlah besar atau berlebihan. Bahkan ada satu responden yang secara khusus mengatakan takut kamar mayat. “Ada juga yang sampai fobia, tetapi ini berbeda dengan orang yang hanya malas ke dokter. Jenis fobia ini disebut latrophobia,” ungkap psikolog yang lebih akrab disapa Nina ini. Hal yang sama juga berlaku ketika seseorang harus menemui psikolog atau psikiater. Tak jarang mereka enggan melakukannya karena takut dianggap gila atau malu. “Tetapi sebenarnya ini berbeda. Ketakutan pada dokter itu sifatnya fisik seperti ke jarum suntik atau ruangannya, sedangkan ketakutan terhadap psikolog tidak bersifat fisik,” paparnya. Bila sudah sampai pada tahapan fobia, Nina mengatakan sumber ketakutannya harus dicari terlebih dahulu. Setelah itu, pasien bisa diterapi dengan sejumlah teknik, semisal terapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy) dan mindfull therapy.

Pada terapi CBT, pasien diajak untuk berpikir ulang agar dapat membuat kesimpulan yang mengarah pada perilaku tidak takut dokter. Sedangkan pada mindfull therapi, pasien diajak berpikir dan menyadari secara penuh bahwa ketakutannya tidak beralasan.  “Semisal jika dia takut pada jas dokter, kita ajak berpikir bukan jas putih yang akan ditemui tapi dokternya, jadi jas putih tidak perlu dipikirkan. Itu hanyalah bagian kecil dari bertemu dokter,” urai Nina. Namun jika fobianya masih tergolong ringan, dokter juga bisa diajak bekerjasama untuk mengatasi ketakutan ini. Ambil contoh jika takut pada rumah sakit, pasien bisa diajak ke klinik atau praktik dokter pribadi; takut pada jas dokter, dokternya bisa diminta tidak memakai jas saat melakukan pemeriksaan; atau jika takut disuntik, maka perlu diceritakan bahwa pemeriksaan yang akan dilakukannya takkan membutuhkan suntikan.