Saat Gunung Tak Lagi Sunyi, Ribuan Orang Memilih Jadi Pendaki Saat Libur Tiba

d94af140-0497-4d55-afca-50b9ce946a20_169

d94af140-0497-4d55-afca-50b9ce946a20_169Jakarta – Belasan tahun lalu mendaki gunung mungkin bukan menjadi wisata pilihan. Hanya pecinta alam atau kalangan terbatas saja yang memilih menjadi pendaki gunung. Tapi itu dahulu, kini mendaki gunung adalah kebanggaan, eksistensi, dan tentu saja liburan. Kini ribuan orang memilih berwisata atau menghabiskan liburan dengan naik gunung. Fenomena ini mungkin terasa setelah beberapa film layar lebar berkisah tentang perjuangan mendaki gunung, mulai dari Semeru hingga Rinjani. Dan pastinya, pendaki gunung bukan orang yang terlihat dekil lagi dengan bekal seadanya. Para pendaki gunung kini berubah, keren-keren dan berduit.

Beberapa pembaca detikcom yang biasa mendaki gunung mengisahkan fenomena ini. Nurjo misalnya, yang pernah mendaki berbagai gunung di Indonesia ini menuturkan pengalamannya mendaki gunung saat ini. “Sekarang ramai banget,” jelas Nurjo, pria 38 tahun yang sejak SMA sudah terbiasa mendaki gunung ini saat berbincang, Senin (9/5/2016). Nurjo pada libur panjang kemarin mendaki Gunung Prau di Jawa Tengah di kawasan Dieng. Dia sudah beberapa kali naik gunung ini, dan kini mencoba kembali. Sampai di puncak, ternyata sudah banyak para pendaki. Tenda warna warni menghiasai puncak Prau di ketinggian 2.565 mdpl. “Sekarang gunung sumpek,” urai pria yang juga driver Go-Jek ini dengan diiringi derai tawa. Tapi bagi dia itu tak masalah. Menikmati keindahan alam, melihat terbitnya matahari, serta berbagi sesama pendaki adalah pengalaman yang tak akan bisa dilupakan. Naik gunung bikin ketagihan. “Bagi saya naik gunung ini olahraga yang baik untuk raga dan jiwa, di jalur hutan dengan tantangan melatih diri kita belajar menghargai kesulitan, pantang menyerah, dan memahami saling memberi,” ujarnya.

Tak hanya Prau yang disesaki pendaki, Rinjani salah satu gunung tertinggi di Indonesia yang terletak di NTB juga penuh oleh pendaki. Seperti dituturkan Dwi Sapta, pembaca detikcom yang biasa menghabiskan libur dengan mendaki gunung. Dia juga menemukan suatu keramaian baru beberapa tahun ini di puncak gunung. “Rinjani ramai banget kemarin. Penuh,” jelas pria berusia 35 tahun ini. Menurut pria yang akrab disapa Tedy ini, gunung-gunung yang tinggi menjulang biasanya tak ramai pendaki. Di event khusus saja, misalnya 17 Agustus atau hari tertentu, gunung dipenuhi pendaki. Tapi kini aneka warna tenda memenuhi puncak Rinjani.  “Banyak pendaki pemula yang tak menjaga keasrian gunung. Sampah sekarang banyak di puncak gunung. Ini yang mesti dikritisi,” terang manajer di sebuah perusahaan perumahan ini. Bagaimana menurut Anda, memilih mencoba berwisata naik gunung?