Daya Dobrak

Dobrak atau gebrakan lebih identik dengan artian perlawanan, yang tak jarang juga kita maknai dengan hal negatif/merugikan.

Seperti halnya dobrakan yang dilakukan oleh PKI tahun ’65 dengan membantai 7 jendral, dgn alasan isu dewan jenderal. Mereka khawatir eksistensi mereka akan sirna, cita-cita menjadikan Indonesia negara komunis terancam kembali gagal, sehingga mereka bersikap brutal. 

Dobrakan yang mereka beri nama gerakan 30 September itu telah berlalu 52 tahun lamanya. Dan tepat hari ini INDONESIA mengenangnya sebagai bagian dari sejarah kelam bangsa ini.

Tetapi dobrakan tak melulu harus dgn pasukan dan kekerasan. Dobrakan juga mampu menghadirkan kebaikan dan inspirasi seperti halnya yang dilakukan seorang mahasiswa di universitas ternama di Mesir.

Ada rasa tak nyaman didalam dadanya melihat perubahan secara drastis terjadi di negaranya, paham sekularisme yang digaungkan oleh Mustafa Kemal di Turki kini diadopsi para kaum muda serta tak terkecuali sistem pendidikan Mesir yang meniadakan masjid sbg fasilitas pendidikannya.

Tak ada tempat baginya untuk shalat. Oleh karena itu ia menggelar tikar ditengah lapangan kampus dan menunaikan shalat hingga orang terkaget sekaligus takjub melihatnya. Seorang bapak petugas kebersihan sebenarnya juga bergeleng-geleng, tetapi ia terkesima dgn daya dobrak si pemuda dan kemudian ikut berdiri menjadi makmum. Seolah-olah ia ingin mengingatkan kembali bahwasanya masjid adalah tempat sejarah yang menjadi cikal-bakal berdirinya universitas pertama: universitas Al-Qarawiyyin.

Hal itu dilakukannya terus-menerus hingga orang terbiasa dengan fenomena unik itu. Satu per satu mahasiswa lain akhirnya ikut berjamaah di lapangan kampus. Hingga fenomena itu menjadi perhatian rektorat universitas dan diakhir kisah pihak rektorat membangun masjid sebagai pusat shalat dan keagamaan.

Pemuda itu kini menjadi inspirator dan dikenang oleh dunia Islam. Sang pendobrak itu bernama: Hasan Al-Banna.

Semua orang mempunyai potensi untuk mendobrak, mendobrak kebiasaan buruk, rasa malas, mendobrak pemikiran yg salah.

Bagi pemuda naluri itu tak pernah mati. Ya, naluri untuk mendobrak itu hanya terkubur. Dan tugas kita utk menggalinya. (r.elji)