Akibat Pemblokiran medsos, perdagangan online mengalami kerugian hingga Rp 681 Miliar

Pasca insiden pada tanggal 21-22 Mei yang lalu, Kementrian Kominfo melakukan pemblokiran terhadap beberapa media sosial diantaranya facebook, whatsap dan instagram. Menurutnya, hal ini di picu untuk mengurangi penyebaran hoax dan berita berita yang dapat menyulut berbagai pihak.

Namun disisilain, pemblokiran media sosial yang dilakukan Kementerian Kominfo ini berdampak sangat buruk khusunya pada perdagangan online.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, sebanyak 66 persen transaksi jual beli online terjadi di platform media sosial seperti Instagram, Facebook dan Whatsapp. Hanya 16 persen transaksi lewat marketplace, berdasarkan riset Ideas 2017. “Nilai transaksi e- commerce berdasar riset Indef di 2019 diperkirakan 8,7 miliar dolar AS atau Rp 126 triliun. Dibagi 365 hari rata rata Rp 345 miliar per hari,” jelas Bhima dilansir Republika.co.id, Jumat (24/5). Dengan nilai tersebut, potensi kerugian jual beli online dengan memblokir fitur medsos per hari adalah 66 persen dari 345 miliar yaitu Rp 227 miliar. “Kalau tiga hari blokir, kerugian pedagang Rp 681 miliar,” katanya.

Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat saat Ramadhan dan menjelang lebaran adalah momen dimana penjualan online  sedang meningkat pesat.

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara meminta maaf atas pembatasan akses media sosial. Rudiantara menegaskan bahwa pembatasan ini perlu dilakukan, karena Kominfo kesulitan untuk melakukan pemblokiran perorangan. Ia memastikan akan segera melakukan pemulihan jika situasi sudah kondusif menurut aparat keamanan.