Kbrina.com, Pangkalpinang – Wacana penataan menyeluruh Kota Pangkalpinang kembali mengemuka. Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Edi Nasapta, secara tegas mendorong Pemerintah Kota Pangkalpinang agar tidak lagi melakukan pembenahan secara parsial, melainkan melalui langkah terstruktur dan berorientasi jangka panjang demi membentuk wajah ibu kota provinsi yang modern, berdaya saing, dan beridentitas kuat.
Menurut Edi, posisi strategis Pangkalpinang sebagai pusat pemerintahan sekaligus etalase daerah menuntut keseriusan dalam penataan. Kota ini, kata dia, bukan sekadar ruang administratif, melainkan representasi citra Bangka Belitung secara keseluruhan.
“Pangkalpinang ini adalah wajah provinsi. Sudah seharusnya ditata dengan baik agar memiliki identitas yang kuat dan membanggakan,” ujar Edi, Sabtu (18/4/2026).
Ia menekankan, pembenahan kota harus menyentuh berbagai sektor secara simultan, mulai dari tata ruang, estetika kota, hingga penguatan aktivitas ekonomi berbasis kawasan.
Salah satu potensi besar yang dinilai belum tergarap optimal adalah keberadaan sungai-sungai yang membelah kota. Edi melihat, kawasan ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus destinasi wisata unggulan.
Ia secara khusus menyoroti kawasan Jembatan Dua Belas sebagai titik strategis yang layak dikembangkan. Menurutnya, peran pemerintah cukup difokuskan pada penyediaan infrastruktur dasar guna membuka ruang masuknya investasi.
“Bangun dermaga yang representatif, lalu biarkan investor masuk mengembangkan restoran terapung atau konsep wisata lainnya,” jelas politisi NasDem tersebut.
Tak hanya itu, Edi juga menggagas konsep wisata “dinner cruise” skala mini sebagai alternatif atraksi baru yang dinilai mampu meningkatkan daya tarik Pangkalpinang, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.
“Ini akan menjadi pengalaman berbeda dan daya tarik kuat,” tambahnya.
Di sisi lain, kritik tajam juga diarahkan pada kondisi infrastruktur dan estetika kota yang dinilai belum mencerminkan karakter kota modern. Ruas strategis seperti Jalan Mayor Saffrey Rahman hingga kawasan alun-alun dan titik nol kilometer disebut masih memerlukan sentuhan desain ulang.
“Elemen seperti pagar pembatas, pot tanaman, hingga penataan pohon perlu didesain ulang agar lebih estetis dan menarik secara visual,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pencahayaan kota. Menurut Edi, penambahan lampu dengan desain artistik bukan sekadar fungsi penerangan, tetapi juga mampu membangun atmosfer kota yang hidup, khususnya pada malam hari.
Revitalisasi sungai turut menjadi bagian penting dalam gagasan besar tersebut. Mulai dari aspek kebersihan, penataan bantaran, hingga pencahayaan kawasan harus dilakukan secara terintegrasi agar sungai tidak lagi dipandang sebagai bagian belakang kota, melainkan menjadi pusat aktivitas publik.
Selain itu, Edi mendorong peningkatan kualitas trotoar agar lebih ramah bagi pejalan kaki serta penataan sistem lalu lintas yang lebih tertib, termasuk kemungkinan penerapan jalur satu arah di sejumlah titik rawan kemacetan.
“Trotoar harus nyaman digunakan, dan lalu lintas perlu ditata agar lebih tertib,” katanya.
Fenomena menjamurnya kafe dan warung kopi di Pangkalpinang juga dinilai sebagai indikator positif geliat ekonomi. Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan tersebut harus diimbangi dengan penataan ruang kota yang baik agar tidak menimbulkan kesemrawutan.
Penataan kawasan pusat kota dan alun-alun, lanjutnya, menjadi krusial untuk menghadirkan ruang publik yang bersih, modern, dan nyaman bagi masyarakat.
“Kalau kota ini hidup dari pagi sampai malam dengan penataan yang baik, Pangkalpinang akan menjadi kota yang benar-benar nyaman dan membanggakan,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Edi berharap Wali Kota Pangkalpinang bersama DPRD Kota menjadikan agenda penataan kota sebagai prioritas utama pembangunan daerah.
“Harapan kita, Pangkalpinang bisa menjadi kota yang paling maju, nyaman, dan membanggakan sebagai ibu kota provinsi. Ini butuh keseriusan dan perhatian penuh dari pimpinan daerah,” tutupnya.
