HUT Perdana PRI Babel: Nganggung Jadi Simbol Politik Kerakyatan, Dari Dulang ke Konsolidasi

KBRINA.COM, BANGKA BELITUNG — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Partai Rakyat Indonesia (PRI) di Bangka Belitung tidak berhenti pada seremoni potong tumpeng. DPD PRI Babel memilih membawa perayaan partai ke meja makan warga melalui tradisi Nganggung, sebuah simbol kebersamaan yang telah mengakar kuat dalam kultur masyarakat Bangka Belitung.

Di tengah panggung politik yang kerap identik dengan pidato, baliho dan perebutan pengaruh, PRI Babel justru memilih dulang sebagai medium pesan politiknya: duduk bersama, makan bersama dan membangun kedekatan dengan masyarakat.

Tradisi Nganggung dalam peringatan HUT perdana PRI tersebut menyajikan berbagai makanan khas Babel. Lempah kuning, lalapan, tumis pucuk daun ubi, tumis pisang muda dan lempah darat memenuhi hidangan. Rusip, kuliner fermentasi ikan khas Bangka Belitung, juga menjadi bagian yang tidak ditinggalkan.

Bagi jajaran DPD PRI Babel, pilihan menghadirkan kuliner tradisional bukan sekadar persoalan menu. Ada pesan politik yang ingin ditegaskan: partai harus memiliki akar di tengah masyarakat, bukan hanya hadir ketika membutuhkan suara.

Ketua DPD PRI Babel, Sri Kristin, didampingi Sekretaris Robert Aritonang dan Bendahara Ria, menegaskan bahwa memasuki usia satu tahun menjadi momentum bagi PRI Babel untuk memperkuat konsolidasi sekaligus mempertegas keberpihakan kepada kepentingan rakyat.

 

Nganggung dipilih karena tradisi tersebut merepresentasikan nilai gotong royong dan kebersamaan yang dinilai sejalan dengan semangat perjuangan PRI.

“Ini bukan sekadar makan bersama. Nganggung memiliki nilai kebersamaan, gotong royong dan rasa syukur. Nilai-nilai itu yang ingin kami bawa dalam perjalanan PRI ke depan,” ujar Sri Kristin.

Ia mengatakan, perjalanan satu tahun PRI harus menjadi titik evaluasi sekaligus pijakan untuk memperbesar kontribusi partai di tengah masyarakat.

Menurutnya, partai politik tidak cukup hanya membangun struktur hingga tingkat bawah. Kehadiran partai harus dapat dirasakan melalui kegiatan yang menyentuh kehidupan masyarakat serta mampu menyerap aspirasi dari bawah.

“Kami ingin PRI tumbuh bersama masyarakat. Karena itu, tradisi lokal seperti Nganggung juga menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan dan kebersamaan,” katanya.

Secara politik, momentum HUT pertama menjadi penting bagi PRI Babel. Usia satu tahun masih tergolong muda, tetapi justru pada fase inilah identitas politik dan basis dukungan mulai dibentuk.

PRI Babel tampaknya tidak ingin membangun citra partai semata melalui panggung politik formal. Tradisi lokal dijadikan salah satu pintu masuk untuk membangun komunikasi sosial dengan masyarakat.

Pesannya sederhana, tetapi memiliki bobot politik: partai tidak boleh berjarak dengan rakyat.

Di atas dulang, perbedaan latar belakang dilebur dalam satu hidangan. Tidak ada kursi VIP, tidak ada meja khusus penguasa. Semua duduk dalam suasana yang sama dan menikmati makanan yang sama.

Dari lempah kuning hingga rusip, perayaan HUT pertama PRI Babel sekaligus menjadi cara partai memperkenalkan wajah politik yang lebih dekat dengan identitas daerah.

Di sisi lain, keterlibatan pengurus inti DPD dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa HUT pertama tidak sekadar dijadikan agenda seremonial tahunan, tetapi juga momentum memperkuat soliditas internal.

Bagi partai yang baru berusia satu tahun, pekerjaan rumahnya tentu masih panjang. Konsolidasi organisasi, penguatan struktur, memperluas basis sosial dan membangun kepercayaan publik menjadi tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan perayaan ulang tahun.

Karena itu, Nganggung seharusnya tidak berhenti sebagai simbol.

Jika pesan yang disampaikan PRI Babel adalah politik yang dekat dengan rakyat, maka ujian sebenarnya justru dimulai setelah dulang dibereskan dan acara perayaan selesai.

Sebab rakyat tidak hanya membutuhkan partai yang pandai menggelar perayaan, tetapi juga partai yang hadir ketika masyarakat membutuhkan keberpihakan.

HUT pertama akhirnya menjadi titik awal. Satu tahun telah dilewati. Setelah ini, masyarakat akan melihat apakah semangat “bersama rakyat” benar-benar menjadi kerja politik sehari-hari atau hanya berhenti sebagai slogan di atas panggung.

(Brama Kumbara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *