Lubuklinggau, Juni 2026 – kader dan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kota Lubuklinggau menyampaikan kritik keras terhadap kondisi politik yang terjadi di wilayah Musi Rawas, Kritik tersebut muncul setelah Alumni PMII yang berkiprah melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak diprioritaskan, yang diharapkan meskipun telah memiliki pengalaman organisasi yang panjang, jaringan sosial, dan rekam jejak pengabdian yang panjang.
Selama ini berkembang narasi bahwa PKB merupakan partai yang lahir dari semangat perjuangan warga Nahdlatul Ulama (NU) dan menjadi ruang aktualisasi bagi kader-kader PMII. Namun dalam praktik politik di tingkat daerah terkhusus nya di Kabupaten Musi Rawas tidak berlaku sama sekali.
Salah satu Alumni kader PMII Kota Lubuklinggau Sahabat Senior Zulpikar, S. Pd. I, telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun komunikasi politik, memperkuat basis massa, serta berkontribusi dalam berbagai agenda partai bahkan sekarang sebagai Mabincab PC PMII Lubuklinggau, bahkan beliau mampu bersaing secara Finansial.
Waktu ketika beliau menjalani Proses Pencalonan Sebagai Ketua DPC PKB Musi Rawas, diperjalan ditawarkan Oleh Bendahara DPW PKB Sumsel untuk dimintai Sejumlah Uang dan dijanjikan Menjadi ketua DPC PKB Musi Rawas diduga juga uangnya mengalir dengan Ketua Umum DPW PKB Sumsel, dan sikap ini sangat disayangkan akan tetapi karena Senior Kami Zulpikar Dengan Niat Yang tulus untuk mengembangkan PKB Musi Rawas beliau Siap Berapapun Itu.
“Kami tidak sedang mempermasalahkan kalah atau menang dalam sebuah kontestasi politik. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana kader-kader yang lahir dari proses kaderisasi panjang mendapatkan ruang yang layak untuk berkembang dan berkontribusi,” ujar Ketua PC PMII Lubuklinggau
Ia juga menambahkan bahwa pengabaian terhadap potensi kader ideologis ini dapat memicu krisis kepercayaan di akar rumput, khususnya di kalangan nahdliyin muda. Ketika proses kaderisasi berdarah-darah di tingkat daerah justru dikesampingkan oleh kepentingan pragmatis elite parpol di daerah, PKB dinilai sedang mempertaruhkan masa depan loyalitas basis massanya sendiri.
Lebih jauh lagi, fenomena ini dinilai mempertegas adanya jarak yang kian melebar antara narasi historis PKB dan realitas politik praktis di lapangan. Jika kecenderungan mengutamakan figur luar yang instan terus langgeng di Kabupaten Musi Rawas, maka nilai tawar PMII sebagai “laboratorium” kepemimpinan nasional akan terdegradasi di tingkat lokal.
Kekecewaan yang disuarakan oleh PC PMII Lubuklinggau ini menjadi alarm keras bagi PKB untuk segera berbenah dan mengembalikan khitah partai sebagai rumah yang ramah bagi kadernya sendiri, bukan sekadar perahu politik bagi pemilik modal sesaat.
