KBRINA COM, PANGKALPINANG – Di tengah riuh rendah politik yang biasanya menyisakan luka dan dendam, satu pemandangan justru mencuri perhatian pada momen pelantikan sejumlah kepala dinas hari ini.
Bukan soal siapa yang dilantik, melainkan tentang siapa yang melantik: Hidayat Arsani.
Figur ini kembali dibicarakan bukan karena retorika, melainkan karena sikap. Sikap yang, dalam bahasa sederhana, makin langka di panggung kekuasaan: kenegarawanan.
Abie Ridwansyah, Ketua Media Publikasi Pemenangan Pilkada Gubernur 2024, menilai pelantikan tersebut sebagai bukti nyata watak besar Hidayat Arsani.
Ia menyoroti fakta yang tak bisa diabaikan: beberapa kepala dinas yang hari ini dilantik adalah sosok-sosok yang pada masa kampanye Pilkada Gubernur 2024 lalu berada di barisan paling keras menghujat Hidayat Arsani.
“Kalau mau dihitung dengan kalkulator politik, ini momen balas dendam yang sah secara emosional. Tapi nyatanya tidak terjadi,” ujar Abie.
Menurutnya, Hidayat Arsani justru menunjukkan kelasnya sebagai negarawan tulen. Ia memilih menutup lembaran konflik politik dan membuka halaman baru bernama pemerintahan.
Tidak ada daftar hitam, tidak ada penghakiman masa lalu. Yang ada hanya satu pertimbangan: kapasitas dan kepentingan publik.
Di titik inilah politik berhenti menjadi ajang saling menyingkirkan, dan mulai berfungsi sebagai alat merawat negara.
Hidayat Arsani, kata Abie, paham betul bahwa jabatan bukan panggung ego, melainkan amanah yang menuntut kedewasaan batin.
“Beliau tidak menaruh dendam. Itu tidak mudah, apalagi setelah dihujat habis-habisan. Tapi justru di situlah kenegarawanannya,” lanjut Abie.
Narasi ini penting dicatat, karena publik sering lupa bahwa demokrasi bukan sekadar soal menang atau kalah. Demokrasi juga menguji karakter setelah kemenangan diraih.
Dan hari ini, Hidayat Arsani memberi pelajaran sunyi: kekuasaan yang dewasa tidak sibuk mengingat luka lama, melainkan fokus memastikan roda pemerintahan berjalan untuk semua.
Dalam politik, memaafkan memang tidak pernah tercantum di peraturan perundang-undangan. Tapi tanpa itu, negara hanya akan diwarisi dendam yang berganti wajah setiap periode. Hidayat Arsani, setidaknya hari ini, memilih jalan yang lebih sulit—namun lebih bermartabat.
(Ryo Esha)
