Dari Kontrak Habis hingga Polemik Partai: Bayu dan Kopi Es Sudirman Mengguncang PDIP

Kbrina.com, Pangkalpinang – Apa yang awalnya tampak sebagai persoalan administratif, kini berkembang menjadi gelombang kegaduhan di internal PDIP. Bayu, pemilik Kopi Es Sudirman sekaligus kader baru partai, mendadak menjadi sorotan setelah muncul kabar bahwa dirinya “diusir” dari bangunan usaha yang ditempatinya.

Faktanya, kontrak penyewaan bangunan memang telah berakhir dan tidak diperpanjang. Klaim pengusiran itu pun terbukti keliru. Namun, di era media sosial, satu narasi yang salah bisa bergerak lebih cepat daripada fakta, dan inilah yang terjadi.

Narasi yang keliru ini menimbulkan perdebatan sengit di internal PDIP. Beberapa kader menilai konten yang beredar menyerang Wali Kota Pangkalpinang, yang juga kader partai, sehingga menimbulkan kegelisahan di antara kader lama maupun baru.

“Video TikTok dan berita online ini memicu perdebatan internal. Kader yang menimbulkan kegaduhan perlu diberikan arahan agar tidak menciptakan ketidakpastian di internal partai,” ungkap seorang kader yang meminta namanya dirahasiakan. Sumber itu juga menambahkan, isu ini diduga dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, bukan kepentingan partai.

Beberapa kader pun meminta Rudianto Tjen, anggota DPR RI Dapil Bangka Belitung sekaligus Wabendum DPP PDIP, untuk menegaskan sikap partai atau memberikan sanksi kepada Bayu. Langkah ini dinilai penting agar kasus serupa tidak menjadi preseden buruk dan soliditas partai tetap terjaga, terutama menjelang agenda politik yang semakin padat.

Hingga kini, Rudianto Tjen dan Ketua DPD PDIP Babel, Didit Srigusjaya, masih dalam proses konfirmasi terkait langkah partai. Kasus ini menjadi cermin bagaimana satu narasi yang salah di media sosial dapat menimbulkan tekanan besar, bahkan di dalam struktur partai itu sendiri.

Dalam era informasi yang bergerak cepat, narasi yang tidak akurat bisa lebih viral daripada fakta. Dan bagi sebuah partai politik, dampaknya bukan sekadar kegaduhan; tapi ujian bagi soliditas, kredibilitas, dan kemampuan menjaga keharmonisan internal di tengah dinamika politik yang kian kompleks.

(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *