BANYUASIN, PSCOM — Kabupaten Banyuasin bersiap menorehkan sejarah baru sebagai pionir revolusi energi hijau nasional. Melalui kolaborasi strategis antara PT Green Power Palembang (GPP) dan IJB-Net Pusat (Indonesia Japan Business Network), kini tengah dikembangkan program bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang menggunakan kelapa non-standar sebagai bahan baku utama.
Langkah besar ini dimulai melalui kegiatan rapat konsultasi dan arahan survei kelapa di wilayah Banyuasin, yang dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuasin Ir. Erwin Ibrahim, ST., MM., MBA., IPU., ASEAN Eng., Kepala Dinas PM-PTSP Rayan Noedinsyah, S.STP., M.Si., Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Roni Utama, AP., M.Si., Manager Keuangan dan Umum IJB-Net Pusat Mochamad Budiman, serta Direktur Operasional PT Green Power Palembang Masakazu Takano.
Sekda Banyuasin Erwin Ibrahim menyambut baik kehadiran IJB-Net dan GPP yang mempercayakan Banyuasin sebagai lokasi investasi pabrik bioavtur.
“Kami apresiasi teman-teman dari PT IJB-Net dan GPP yang telah menginvestasikan pabriknya di Kabupaten Banyuasin. Sekadar informasi bahwa produksi kelapa di Kabupaten Banyuasin per tahun mencapai 47.000 ton. Jika dilihat dari kebutuhan GPP yang mencapai 182.500 ton per tahun, maka diperlukan tambahan 130.000 ton per tahun,” ujarnya.
“Estimasi setiap hektare kelapa menghasilkan 1 ton kelapa maka dibutuhkan 130.000 hektare lahan tambahan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Banyuasin Roni Utama menilai proyek ini menjadi peluang emas bagi petani lokal.
“Petani melihat peluang komoditas apa yang dibutuhkan oleh pasar. Saya yakin kalau prospek kelapa ini bagus mereka akan beralih menanam kelapa. Sudah dimaklumi bahwa petani bisa mengubah lahannya dari karet menjadi sawit kemudian berubah jadi kelapa,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas PM-PTSP Banyuasin Rayan Nurdinsyah menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuasin menyambut positif pengembangan investasi terpadu dari IJB-Net di daerah ini.
“Keberadaan investasi tersebut akan berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya petani kelapa, mengingat Banyuasin merupakan penyumbang terbesar produksi kelapa di Sumsel (69,71%).” Tambahnya
Selain itu, ia menambahkan, proyek ini juga berpotensi membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar pabrik.
Langkah strategis ini menjadi tonggak baru bagi Sumatera Selatan, khususnya Banyuasin, dalam kontribusinya terhadap energi terbarukan global mengubah limbah kelapa menjadi bahan bakar pesawat masa depan.
Perwakilan IJB-Net Pusat, Mochamad Budiman, menjelaskan bahwa proyek ini akan memanfaatkan kelapa non-standar atau kelapa reject yang selama ini tidak terpakai di industri pangan.
“Kelapa yang busuk, pecah, kecil, atau bertunas, yang biasanya dibuang justru menjadi emas hijau bagi kami. Dari sinilah kami kembangkan bahan baku bioavtur untuk pesawat terbang,” ujarnya.
Budiman menambahkan, inovasi ini sejalan dengan regulasi International Civil Aviation Organization (ICAO) yang mendorong penggunaan bahan bakar ramah lingkungan tanpa mengganggu sektor pangan.
“Ke depan, penerbangan internasional wajib menggunakan bioavtur. Ini peluang besar bagi Banyuasin untuk menjadi salah satu lumbung energi hijau dunia,” katanya.
Pabrik pengolahan yang kini tengah dibangun di Muara Sungsang, Banyuasin, akan mengolah Crude Coconut Oil (CCO) menjadi bioavtur. Produk hasil olahan ini sebagian besar akan diekspor ke Jepang.
“Target kebutuhan ke depan mencapai 500 ton kelapa non-standar per hari,” jelas Budiman.
Untuk mencapai target tersebut, tim proyek kini melakukan survei intensif di berbagai titik pengumpulan kelapa di Banyuasin sebagai bagian dari validasi kesiapan bahan baku sebelum pabrik beroperasi penuh pada tahun 2026.
“Jika pasokan Banyuasin masih kurang, kami siap memperluas kerja sama ke wilayah lain di Sumatera Selatan, bahkan hingga Jambi dan Riau,” ungkapnya optimistis.
Pemerintah Kabupaten Banyuasin menyatakan dukungan penuh terhadap proyek ini. Sinergi lintas instansi seperti Dinas Perkebunan, PM-PTSP, dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan terus diperkuat demi memperlancar proses perizinan dan regulasi.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan Pemkab Banyuasin. Ini bukan hanya investasi energi, tetapi juga investasi masa depan Indonesia,” tutur Budiman.
Dengan hadirnya proyek bioavtur ini, Banyuasin tidak lagi sekadar dikenal sebagai penghasil kelapa, melainkan juga pusat inovasi energi terbarukan yang memberikan nilai tambah bagi petani, lingkungan, dan ekonomi daerah.
“Bayangkan, limbah kelapa yang dulunya tak bernilai kini bisa menggerakkan pesawat lintas benua. Dari Banyuasin untuk dunia—itulah semangat kami,” pungkas Budiman.
