Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7
Home  

Dari Green House ke Dapur MBG: Kisah Rio Febrizky, Pemuda Babel yang Menanam Harapan lewat Selada Hidroponik

Rio Febrizky, salah satu pemuda pelopor pertanian hidroponik selada, di kelurahan Tuatunu, Gerunggang, sedang melakukan pemindahan bibit sayur selada. (Foto : ist)

KBRINA COM, PANGKALPINA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya menghadirkan menu sehat di meja makan penerima manfaat, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru bagi petani lokal. Di Pangkalpinang, dampak itu terasa nyata lewat sosok Rio Febrizky, pemuda Kelurahan Kampak Kulan yang memilih menanam selada, bukan wacana.

Rio mengelola budidaya selada hidroponik di dalam green house seluas 300 meter persegi. Dari ruang hijau itulah, setiap hari ia menyuplai hingga puluhan kg sayur segar ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), penyedia menu program MBG. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan sebelum program berjalan, yang hanya berkisar belasan kg per hari.

“SPPG ini bukan hanya mendukung program Makan Bergizi Gratis, tapi juga membuka kesadaran soal kebutuhan pangan, terutama sayuran,” ujar Rio. Ia menyinggung fakta yang selama ini luput dari perhatian: sebagian besar pasokan sayur di Pangkalpinang masih bergantung dari luar Bangka Belitung.

Kondisi itulah yang mendorong Rio membangun kebun hidroponik. Baginya, hidroponik bukan sekadar tren, melainkan solusi. Dengan lahan seadanya, hasil yang didapat mampu menyaingi pendapatan dari perkebunan skala luas. “Tidak butuh hektaran lahan seperti sawit, tapi penghasilannya bisa setara,” katanyaqa, setengah bercanda, setengah serius.

Sejak program MBG berjalan, permintaan selada hidroponik meningkat tajam. Dari sebelumnya sekitar 10 kilogram, kini melonjak hingga 20-an kg per hari. Untuk mengimbanginya, Rio menggandeng petani lain dan menambah unit green house hingga kini berjumlah 10 unit.

Selada hidroponik hasil tanamannya dijual di kisaran Rp 70–80 ribu per kilogram. Dari sana, Rio meraup pendapatan belasan hingga puluhan juta rupiah setiap bulan. Namun baginya, angka bukan satu-satunya tujuan. Hidroponik dipilih karena ramah lingkungan, minim limbah, dan tidak merusak ekosistem sekitar.

Lebih dari sekadar usaha, kebun hidroponik Rio menjadi alternatif bagi masyarakat yang hobi berkebun namun terbatas lahan. Ia membuktikan bahwa pertanian modern bisa tumbuh di tengah kota, bersih, efisien, dan berkelanjutan.

Di tengah ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah, kisah Rio menjadi pengingat bahwa solusi bisa lahir dari halaman sendiri. Ketika program nasional bertemu inisiatif lokal, yang tumbuh bukan hanya sayuran, tetapi juga kemandirian dan harapan baru bagi pertanian Bangka Belitung.

(Brama Kumbara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *