KBRINA.COM, BANGKA SELATAN — Gelombang aksi mahasiswa dan aliansi masyarakat yang marak di berbagai daerah Indonesia ikut mengguncang Kabupaten Bangka Selatan. Ratusan massa berkumpul di halaman gedung DPRD Basel, Jumat (5/9/2025), menyuarakan 10 poin tuntutan moral. Salah satunya: pencabutan izin Hutan Tanaman Industri (HTI) yang dianggap merugikan warga Desa Bedengung.
Aksi yang dipimpin Batara Harahap itu awalnya berjalan tertib dan damai. Massa menyampaikan keresahan tanpa tindakan anarkis. Namun, tensi mendadak meninggi ketika Bupati Bangka Selatan, Riza Herdavid, memotong pembacaan tuntutan.
Alih-alih merespons dengan sikap menyejukkan, Riza justru melontarkan pernyataan yang memicu kontroversi. Dengan nada tinggi, ia mengklaim sudah lebih dulu bertindak sebelum ada tuntutan massa. Bahkan, ia menyebut dirinya sebagai pemimpin terbaik di hadapan para pendemo.
“Bapak kemarin ikut rapat nggak? Ini sudah kami bahas. Jadi sebelum rakyat nuntut, saya sudah berbuat. Makanya ikut rapat. Saya ini pelayan terbaik hari ini. Silakan dicek, sebelum dan sesudah Bangka Selatan ada saya,” ujar Riza dengan suara meninggi.
Pernyataan itu sontak memantik ketegangan. Bagi massa, sikap arogan seorang kepala daerah justru menunjukkan jarak yang semakin lebar antara penguasa dan rakyat yang diperjuangkannya. Aspirasi warga Desa Bedengung tidak berhenti pada forum rapat, melainkan soal kejelasan hak masyarakat yang puluhan tahun hidup dari lahan yang kini dikuasai HTI.
Iblis dan Kesombongan: Cermin dari Kekuasaan
Dalam sejarah Islam, Al-Qur’an menggambarkan bagaimana kesombongan bisa menjadi sebab kehancuran. Iblis terusir dari surga bukan karena kurang cerdas atau tidak taat beribadah, melainkan karena merasa dirinya lebih baik dari Nabi Adam.
Allah menegaskan dalam firman-Nya:
“(Allah) berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab: ‘Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah’.”
(QS. Al-A’raf: 12)
Kesombongan iblis yang menolak kebenaran karena merasa lebih unggul menjadi peringatan bagi manusia. Pemimpin yang mengaku “terbaik” di hadapan rakyatnya berisiko jatuh pada sikap serupa—merasa lebih hebat, lebih mulia, dan abai mendengar aspirasi.
Pemimpin atau Sekadar Retorika?
Ucapan Riza Herdavid bahwa dirinya adalah “pelayan terbaik” kontras dengan kenyataan di lapangan. Bagi publik, klaim tersebut justru menguatkan kesan bahwa sang bupati lebih sibuk membangun citra pribadi ketimbang membuka ruang dialog substantif dengan rakyatnya.
Situasi baru kembali kondusif setelah Ketua DPRD Basel bersama Wakil Bupati maju menerima tuntutan massa. Namun, insiden ini meninggalkan pertanyaan mendasar: apakah pemerintah benar-benar berpihak pada rakyat, atau hanya pandai beretorika saat sorotan publik mengarah tajam ke kursi kekuasaan?. (35HA)
