Kbrina.com, Pangkalpinang – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pangkalpinang mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 1,41 persen pada Maret 2026. Angka ini mencerminkan kondisi harga yang relatif stabil, meski tetap menunjukkan kenaikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data resmi, Indeks Harga Konsumen (IHK) Pangkalpinang tercatat sebesar 107,40 pada Maret 2026, meningkat dari 105,91 pada Maret 2025. Secara bulanan (month to month/m-to-m), terjadi inflasi sebesar 0,21 persen, sementara secara tahun kalender (year to date/y-to-d) justru mengalami deflasi sebesar 0,12 persen.
Tekanan inflasi paling besar bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi hingga 3,71 persen, dengan andil dominan sebesar 1,17 persen terhadap inflasi total.
Sejumlah komoditas yang memicu kenaikan harga antara lain daging ayam ras, ikan segar seperti selar, kembung, dan manyung, serta cumi-cumi. Selain itu, beras dan sayuran seperti bayam dan kangkung turut berkontribusi. Kenaikan juga terjadi pada emas perhiasan serta tarif angkutan udara.
Dari sisi transportasi, inflasi tercatat sebesar 1,60 persen dengan kontribusi 0,22 persen. Kenaikan tarif angkutan udara menjadi faktor utama dalam kelompok ini.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi cukup tinggi sebesar 3,50 persen, terutama didorong oleh naiknya harga emas perhiasan.
Di tengah tekanan tersebut, sektor pendidikan justru mencatat deflasi cukup dalam sebesar 10,53 persen. Penurunan ini dipicu oleh turunnya biaya pendidikan menengah (SMA). Selain itu, kelompok perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga juga mengalami deflasi, meskipun dalam skala terbatas.
Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, inflasi Pangkalpinang pada Maret 2026 tergolong moderat. Angka 1,41 persen sedikit lebih tinggi dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 1,39 persen, namun lebih rendah dari 2024 yang mencapai 2,24 persen dan 2023 sebesar 4,04 persen. Hal ini menunjukkan tekanan harga masih berada dalam kendali, meski terjadi fluktuasi pada komoditas tertentu.
Secara bulanan, inflasi 0,21 persen dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas seperti daging ayam ras, bayam, udang basah, bensin, dan telur ayam ras. Namun demikian, laju inflasi tertahan oleh penurunan harga beberapa jenis ikan dan cabai.
Secara keseluruhan, kondisi inflasi di Kota Pangkalpinang pada Maret 2026 masih relatif stabil. Tekanan utama berasal dari sektor pangan dan transportasi, sementara penurunan biaya pendidikan menjadi faktor penyeimbang.
Pemerintah daerah diharapkan terus menjaga stabilitas harga, khususnya pada komoditas pangan strategis, guna mempertahankan daya beli masyarakat.
