KBRINA.COM, PANGKALPINANG — Universitas Bangka Belitung (UBB) dan Karang Taruna Provinsi Bangka Belitung meresmikan kerja sama lewat penandatanganan MoU, sekaligus membuka ruang baru kolaborasi kampus–pemuda. Agenda ini dirangkai dengan kuliah umum bertema Era Baru Peran Pemuda: AI, Pancaroba Politik, dan Epos Kepahlawanan, tiga isu yang kini saling seret-menyeret arah zaman, Senin (17/11/2025)
Di hadapan mahasiswa, Ketua Karang Taruna Provinsi Bangka Belitung, Haidir Asnan, S.Komp., tampil dengan gaya yang sudah jadi ciri: ringan, cerdas, dan sesekali menyelipkan humor yang mendarat seperti kritik bersayap. Ia mengajak mahasiswa menempatkan AI bukan sebagai monster teknologi, melainkan kelanjutan dari nalar manusia yang sudah bereksperimen sejak 1955. Haidir bahkan menyinggung masa kuliahnya di era 90-an ketika ia meracik game catur berbasis AI—yang kini terasa seperti fosil digital.
Namun fokus Haidir bukan semata kecanggihan. Ia justru menyoroti nilai dasar yang kerap tercecer di era serba cepat. Ia mengangkat contoh sederhana: doa makan dan doa tidur yang sejak kecil dihafal, tapi jarang lagi dipraktikkan. Analogi kecil itu mengantarnya pada isu besar: derasnya arus informasi yang sering membuat masyarakat menyebarkan hoaks lebih cepat daripada berpikir. “Kita bisa terjebak dalam pancaroba politik kalau jempol tak mau menunggu akal,” ujarnya. Kampus, menurutnya, bukan menara gading, melainkan tempat peradaban ditempa—dan mahasiswa adalah penjaga gerbangnya.
![]()
Dari sana ia mencontohkan kepahlawanan modern: bukan soal pedang atau drama heroik, tetapi integritas. Ia menyebut Rektor UBB yang meraih gelar profesor di usia muda sebagai ilustrasi bahwa kepahlawanan kini diwujudkan lewat keberanian menjaga nilai dan memperjuangkan kebenaran. Bahkan ia sempat melontarkan humor tentang “Rocky Gerung versi Bangka Belitung”, lengkap dengan “kemasan tertutupnya”—seloroh yang membuat ruangan pecah tawa tanpa mengaburkan pesannya.
Dua narasumber lain, Zul Terry Apsupsi, S.S., dengan analisis tajam khas tokoh masyarakat, serta Gilang Virgiawan, S.T., Ketua Bidang OKK IKA UBB, memperkaya perspektif dengan pengalaman sosial dan kepemimpinan. Ketiganya bertemu pada satu simpul: pemuda harus siap menghadapi dunia yang bergerak lincah, tanpa kehilangan kompas moral.
Haidir menutup materinya dengan ajakan yang terasa seperti ketukan di meja: mahasiswa harus berani berdiskusi, berani berbeda, dan terlebih lagi, berani memulai perubahan dari diri sendiri. Dari kebiasaan memilah informasi hingga sikap bersuara ketika kebenaran dipertaruhkan.
Kuliah umum ini menjadi ruang pertemuan gagasan dan pengalaman, sekaligus pengingat bahwa di tengah derasnya AI dan kusutnya politik, bangsa membutuhkan generasi yang bukan hanya cakap digital, tetapi juga teguh secara moral. Sebuah kombinasi yang makin langka, namun semakin mendesak untuk diwujudkan.
(RYO ESHA)
