Kbrina.com, Bangka Tengah — Di arena Kejurprov Menembak Merah Putih 2025, kontingen Belitung Timur hadir sebagai tamu jauh yang membawa energi paling dekat: semangat tanpa kompromi. Berangkat dari Belitung Timur pada Jumat, 5 Desember 2025 menggunakan kapal, rombongan berisi 19 orang—15 atlet, dua pelatih, serta dua perwakilan Dispora Beltim—langsung menancap gas menuju venue lomba.
Supardi, perwakilan Pengkab Belitung Timur, tampil lugas sekaligus hangat ketika memaparkan misi mereka. Ia seperti ingin memastikan satu hal: jarak tak pernah menjadi alasan untuk ciut.
“Kami bawa 15 atlet menembak untuk kategori outdoor dan indoor. Meskipun kami dari kabupaten paling jauh di Babel, semangat tetap menyala. Kami datang dengan biaya pribadi, dan Pemkab Beltim menyiapkan penginapan untuk para atlet. Kondisi kita boleh dibilang masih tahap persiapan, tapi bukan berarti tanpa target,” ujarnya, meletakkan nada optimistis yang cukup untuk mengisi satu gedung tembak.
Supardi mengatakan, sasaran mereka sederhana tetapi tidak main-main. “Target kami juara satu atau dua. Syukur alhamdulillah. Kebetulan atlet yang kita bawa ini sebagian besar wajah baru. Jadi sekalian kita kasih pengalaman tanding dulu untuk yang baru, sementara senior kita—Nandi, Dori, dan Opi—tetap jadi tulang punggung,” tambahnya.
Belitung Timur juga datang dengan dukungan penuh Pemkab terhadap atlet pelajar. Birokrasi yang biasanya kaku, kali ini justru memberi kelonggaran yang penting.
“Banyak atlet kami masih pelajar dan sekarang masa ulangan. Tapi Pemkab memberi dispensasi supaya mereka bisa ikut kejuaraan ini. Itu bentuk dukungan nyata bahwa potensi harus diberi ruang, bukan ditunda,” jelas Supardi.
Di balik cerita perjalanan jauh, biaya pribadi, dan jadwal ulangan yang dikejar-kejar, kontingen Belitung Timur berdiri sebagai potret kecil dari olahraga itu sendiri: fokus, disiplin, dan tak pernah mengeluh meski jarak memanjang.
Gelaran Kejurprov Menembak Merah Putih 2025 pun seakan menemukan tambahan bahan bakarnya—semangat Beltim yang tak pernah mengenal kata “setengah”. Semesta menembak di Babel kembali hidup, dan Belitung Timur datang bukan hanya untuk hadir, tetapi untuk membuat tanda di papan skor.
(Ryo esha)
