Euforia Lebaran perlahan surut. Gema takbir kian mereda, tergantikan oleh suara bising jalanan dan tumpukan pekerjaan di meja yang kembali menemani. Rutinitas harian sudah sepenuhnya berjalan normal. Di tengah putaran waktu yang kembali cepat ini, lembar kalender Syawal pelan-pelan menggiring kita menatap hari-hari penyerahan diri. Seringkali, di fase transisi yang sibuk inilah kita diuji. Apakah ritme spiritual yang susah payah dibangun sebulan penuh kemarin akan ikut larut dan memudar terbawa kesibukan?
Kedekatan dengan Allah yang sempat terjalin erat lewat tarawih, tilawah, dan heningnya sepertiga malam adalah modal berharga. Ujian aslinya ada di hari-hari ini, memastikan sajadah tidak dibiarkan berdebu saat kita bersiap menjemput keteladanan Ibrahim. Semangat menyembelih ego dan kerelaan berkorban di masa depan nanti, sejatinya berakar kuat dari kemampuan kita mempertahankan konsistensi ibadah hari ini.
Kedekatan dengan Pencipta sudah seharusnya sejalan dengan kepedulian pada sesama. Di saat kita mulai menyisihkan rezeki untuk menebus niat berkorban esok hari, ada saudara-saudara di Palestina yang masih berjibaku menghadapi krisis kemanusiaan panjang. Mengaku dekat dengan Pemilik Langit meniscayakan empati pada penderitaan mereka. Langkahnya harus membumi: rutinkan doa yang tak putus seusai salam, salurkan donasi semampunya, dan jaga kejernihan hati saat memilah barang konsumsi harian. Jangan sampai rupiah kita justru mengalir dan melanggengkan rantai penindasan.
Ujian empati ini juga mendesak ditarik ke halaman rumah kita sendiri. Ketidakpastian global perlahan mengirimkan riaknya ke dapur-dapur keluarga di dalam negeri. Angka-angka kebutuhan pokok di pasar bergerak liar, sementara daya beli masyarakat makin tercekik. Dalam himpitan ekonomi yang serba sulit ini, esensi pengorbanan menemukan wujudnya yang paling nyata.
Mengecek periuk nasi tetangga yang mungkin kosong, menopang bahu kawan yang sedang limbung, atau memastikan kerabat dekat tak kesulitan menyambung hidup, adalah bentuk penyembelihan ego yang sesungguhnya, bahkan sebelum altar kepatuhan itu tiba.
Mari jadikan sisa Syawal ini sebagai ruang menakar diri. Merawat ibadah secara personal adalah satu sisi mata uang kemenangan, sementara kepedulian yang mewujud pada nasib saudara di Gaza dan tetangga di sebelah rumah, adalah sisi lainnya yang menyempurnakan kemenangan kita.
Bersebab kelak di persidangan hari akhir, apalah arti kening yang rajin bersujud jika mata kita buta melihat tetangga yang kelaparan dan hati kita kebas pada tangis darah di Gaza. Jangan sampai kita pulang menghadap-Nya membawa mata uang kemenangan palsu, merasa berhak atas surga, padahal nurani kita di bumi nyatanya sudah lama mati! Allaahu Akbar!
