Kbrina.com, Pangkalpinang – Pemanfaatan pupuk berbasis mineral alami dan bahan organik lokal menjadi salah satu pendekatan strategis dalam mengatasi penurunan kualitas tanah pertanian.
Di Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Gubuk Tani Air Rimba mengembangkan dan memasarkan pupuk sapi liar sebagai pembenah tanah sekaligus penguat efisiensi pemupukan, terutama pada lahan marginal.
Secara agronomis, pupuk sapi liar diformulasikan untuk memperbaiki kondisi fisik dan kimia tanah. Kandungan kalsium oksida (CaO) sebesar 29,86% berfungsi sebagai penetral keasaman tanah, sementara magnesium oksida (MgO) 18,47% berperan dalam pembentukan klorofil dan mendukung proses fotosintesis.
Adapun kandungan SiO₂ serta Al₂O₃Fe₂O₃ membantu meningkatkan stabilitas agregat tanah dan memperbaiki daya ikat unsur hara.
“Fokus kami bukan hanya memberi makan tanaman, tetapi membenahi tanah terlebih dahulu. Tanah yang sehat akan membuat pupuk apa pun bekerja lebih efisien,” ujar Zamzami, pengelola Gubuk Tani Air Rimba.
Menurut Zamzami, pupuk sapi liar berfungsi sebagai media penetral dan aktivator tanah, sehingga unsur hara makro maupun mikro lebih mudah diserap oleh akar. Dampaknya terlihat pada pertumbuhan vegetatif yang lebih seimbang, perakaran lebih kuat, serta ketahanan tanaman terhadap cekaman lingkungan meningkat.
Produk ini direkomendasikan untuk berbagai komoditas pertanian dan perkebunan, khususnya pada tanah berpasir, tanah masam, dan lahan yang mengalami degradasi kesuburan akibat pemupukan kimia jangka panjang.
Sinergi dengan NPK Spesifik Tanaman Menghasilkan
Untuk fase produksi, terutama pada kelapa sawit tanaman menghasilkan (TM), Gubuk Tani Air Rimba juga merekomendasikan penggunaan pupuk NPK 13-8-27 + 5 MgO + 0,6 B. Formulasi ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi spesifik sawit dewasa dengan tekanan produksi tinggi.
Kandungan kalium (K₂O) 27% berperan dominan dalam pembentukan tandan buah segar (TBS), meningkatkan bobot dan kualitas buah. Sementara fosfor (P₂O₅) 8% mendukung aktivitas perakaran dan metabolisme energi tanaman. Penambahan magnesium (MgO 5%) mencegah klorosis daun, dan boron (B 0,6%) krusial untuk pembentukan bunga dan buah agar tidak terjadi buah kecil atau tidak merata (landak).
“Kami mendorong petani agar tidak hanya mengandalkan NPK, tetapi mengombinasikannya dengan pembenah tanah. Hasilnya lebih stabil dan berkelanjutan,” jelas Zamzami.
Teknis Aplikasi dan Efisiensi Pemupukan
Untuk sawit TM, dosis aplikasi NPK dianjurkan 2–3 kg per pohon per semester, disesuaikan umur tanaman dan kondisi kesuburan tanah. Pupuk diaplikasikan secara merata di piringan atau melingkar pada jarak sekitar ⅔ dari lebar tajuk, lalu dapat dibenamkan tipis agar kehilangan unsur akibat penguapan dapat ditekan.
Waktu aplikasi terbaik adalah awal hingga akhir musim hujan, ketika kelembapan tanah mendukung pelarutan dan penyerapan unsur hara secara optimal. Pemupukan pada saat terik siang hari tidak dianjurkan karena dapat menurunkan efektivitas pupuk.
Pendekatan terpadu antara pembenah tanah berbasis mineral alami dan pupuk majemuk spesifik tanaman ini menjadi model praktik baik dalam pengelolaan nutrisi tanaman.
Inisiatif Gubuk Tani Air Rimba membuktikan bahwa inovasi lokal, jika dirancang secara ilmiah dan aplikatif, mampu menjawab tantangan produktivitas pertanian di lahan-lahan marginal Indonesia.
(Ryo Esha)
