Oleh: Nurisna Faida Haya
MAN 1 Pangkalpinang
Suara petikan melodi dambus kepala rusa mengalun, membius siapa saja dalam kekaguman. Jari-jemari Onny Nur Pratama (32) memetik senar dan memainkan lantunan dambus nganter-inti-tangtut dengan rasa kasih yang menggetarkan hati. Seolah mengajak siapa saja untuk terhanyut lebih dalam mengenal dambus. Onny Nur Pratama merawat nafas tradisi dambus dengan kasih sayang agar detaknya tidak hilang di tengah modernisasi.
“Dambus harus disiram dengan rasa kasih, seperti ibu yang mengasihi anaknya sepenuh hati,” ujar Onny sapaan akrabnya saat diwawancarai pada Rabu, 8 April 2026.
Bagaikan kasih seorang ibu, Onny mencurahkan kasih sayangnya dalam setiap karya demi menjaga eksistensi musik dambus kepala rusa.
Onny sudah membuktikan rasa kasihnya terhadap dambus sejak lama. Pada 2015, ia menyusun transkrip notasi irama Abu Samah dalam skripsi S-1 Etnomusikologi. Notasi tersebut kini terus ia kembangkan untuk kebutuhan grup Dambus Maharani. Kasih itu kian mendalam saat ia menyelesaikan studi S-2 pada 2019.
Onny tak lagi sekadar bicara soal nada, tetapi menyelami jiwa dambus melalui makna simbolis kepala rusa dalam tesisnya. Bagi Onny, mendalami sejarah dan filosofi adalah caranya mencintai dambus secara utuh.
Ia bahkan pernah dengan bangga menceritakan keunikan kepala rusa ke forum ICTM (International Council for Traditional Music) di Universitas Chulalongkorn, Thailand tahun 2019. Petikan dambus dengan tradisi bertutur pantun yang khas membius tamu undangan.
Ruang seminar layaknya panggung festival musik dambus. Para peneliti dunia terkesima melihat simbol kepala rusa yang menjadi ciri khas dambus Bangka. Sebuah identitas alat musik yang tidak ditemukan di negara asal mereka.
Memasuki tahun 2022, Onny terlibat aktif dalam program Dambus Masuk Sekolah (DMS) yang diinisiasi oleh Ratna Purnamasari, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Pangkalpinang. Dalam wawancaranya, program ini baru berjalan aktif pada 2023 karena sebelumnya belum mempunyai gambaran yang jelas.
Tujuan program ini menumbuhkan minat dan bakat siswa dalam kesenian tradisional, meningkatkan kecintaan pada budaya daerah, serta melestarikan musik dambus lintas generasi. Onny mulai mengenalkan dambus kepada generasi muda yang masih sekolah di beberapa SMP di Pangkalpinang.
Tantangan terbesar Onny dalam mengenalkan dambus adalah generasi muda yang hidup di era digital. Berdasarkan Jurnal Pendidikan Tambusai (2024), lebih dari 50% remaja di indonesia lebih memilih menyukai budaya luar daripada budaya lokal.
Fenomena short attention span dimana anak sekolah zaman sekarang terbiasa dengan konten berdurasi kurang dari 60 detik.
Akibatnya, mereka bosan dengan kegiatan yang berdurasi lama dan butuh fokus seperti belajar seni tradisional.
Menghadapi tantangan ini, Onny berusaha mendekati generasi digital tersebut melalui pendekatan yang menumbuhkan minat dengan rasa kasih dalam bermain dambus.
Pendekatan penuh kasih sayang itu tercermin dalam kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di salah satu SMP Pangkalpinang (06/02/24).
Di sebuah ruang kelas yang riuh dengan tawa dan obrolan, Onny melangkah masuk sambil menjinjing tas dambus. Begitu ia duduk dan mulai memetik dawai irama Abu Samah. Dentingan alat musik itu menciptakan harmoni kontras yang seketika meredam kegaduhan.
Para siswa menghentikan obrolan mereka secara serentak. Tatapan mereka mengikuti gerakan lincah tangan Onny dengan penuh konsentrasi.
Suasana berubah menjadi lebih khidmat saat seluruh telinga para siswa tertuju pada melodi tersebut dengan rasa penasaran.
Rasa penasaran mereka perlahan terjawab melalui proses belajar tersebut. Onny menyelesaikan dentingan iramanya.
Para siswa langsung mengangkat tangan. Onny kemudian mengajak mereka memainkan alat musik lain yang menjadi bagian dari ansambel dambus. Dari pola dasar gendang induk hingga memetik dambus secara bergantian, suasana belajar menjadi hidup dan antusias.
Onny yang pernah menjadi narasumber revitalisasi kesenian tradisional dambus juga berpesan, bermain dambus itu harus mengutamakan adab.
“Jika salah satu pemain tidak bermain dengan baik, maka pemain lain menyesuaikan melodinya. Tidak ada bentakan atau marah jika ada pemain yang salah. Dalam proses latihan, dambus mengajarkan kita untuk menjunjung tinggi karakter adab dan sopan santun,” ujarnya ketika diwawancarai, 8 April 2026.
Kerja keras merawat tradisi dambus dengan rasa kasih membuahkan apresiasi berupa penghargaan sebagai Pemuda Pelestari Seni Musik Tradisi Dambus dari Pemerintah kota Pangkalpinang pada 2023.
Di tengah modernisasi zaman, Onny Nur Pratama tetap setia menjaga napas dambus kepala rusa. Baginya, selama dambus diajarkan dengan rasa kasih, ia akan terus hidup dan diwariskan.
Melalui rasa kasih yang ia tanamkan, dambus kepala rusa akan bernapas selamanya, terus berlari melintasi zaman di dalam sanubari setiap generasi muda.
